Sampah Bahasa

Minggu (4/10) kemarin saya membaca sebuah kolom di harian dengan oplah terbesar di Indonesia tentang bahasa dan penggunaannya yang makin hari makin memprihatikan. Sang penulis, yang adalah juri dari sebuah lomba penulisan kritik film, mengatakan bahwa hampir semua naskah yang dikirimkan padanya tidak memperhatikan kaidah-kaidah dalam berbahasa yang antara lain adalah hukum tentang tanda baca, kata, kalimat, serta paragraf. Belum lagi penggunaan bahasa yang campur aduk antara bahasa Indonesia dengan bahasa asing yang tinggal comot lalu tempel tanpa memperhatikan apakah itu kata sifat, kata benda, kata kerja, dan seterusnya.

Ketika membaca kolom tersebut, saya langsung merasa punya teman. Teman yang sama-sama prihatin dengan bagaimana saat ini bahasa diperkosa dengan terang-terangan di muka umum. Bukan hanya di media-media sosial yang sering kali jauh dari adab kebahasaan, tapi juga di pertontonkan dengan sangat vulgar oleh stasiun-stasiun televisi yang seringkali memposisikan dirinya sebagai stasiun televisi pembawa berita-berita berkualitas.

Kata-kata tanpa makna, karena tidak ada artinya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sering dimuntahkan hingga berbuih-buih bukan hanya oleh narasumber yang gagap karena mungkin jarang masuk televisi tapi juga oleh para pembawa berita yang seharusnya sudah terlatih benar dalam berbicara dan menyampaikannya di muka penonton.

Belakangan, bila menonton televisi, kata “analisa” selalu muncul dengan lancarnya dari para pembicara dan pembawa berita. Atau yang paling trendi saat ini, kata “sinergitas” yang entah dari mana asalnya, mendadak menjadi kata yang menunjukkan betapa kompaknya beberapa institusi dalam menyelesaikan masalah bangsa. Padahal kedua kata itu tidak ada artinya dalam KBBI yang harusnya menjadi acuan dalam kita berbahasa Indonesia yang baik dan benar.

Saya tentu bukan bermaksud merendahkan ilmu para pembicara, tapi ada baiknya bila hendak berkomunikasi di muka umum, pakailah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Karena ketika Anda berbicara di muka umum, Anda didengar oleh banyak orang. Kalimat-kalimat yang Anda ucapkan bisa jadi akan dikutip di mana-mana. Orang-orang yang mendengar Anda bisa jadi meniru kata-kata yang Anda gunakan.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.