Pupur

Kalau orang lain senang menggunakan kata “gincu” untuk menunjukkan aktivitas berdandan, maka saya lebih memilih istilah “pupur”. Pupur alias bedak menurut saya lebih luas menutupi wajah yang sedang didandaniĀ  sehingga lebih mudah dilihat ketika makin tebal pupurnya maka makin tak terlihat alamilah orang yang sedang berdandan itu.

Hal itu juga yang akhir-akhir ini sering kita dengar sedang dilakukan oleh pemerintah Ibu Kota. Kotanya dipupuri alias didandani. Tembok-tembok yang biasanya tampak kusam, membosankan, muram, hingga membuat depresi, sekarang digambari oleh para Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) hingga jadi lebih berwarna-warni walau banyak yang nyinyir karena si Kaka, badak bercula satu yang merupakan lambang kekuatan dalam Asean Games kali ini, tampak kurus dan menyedihkan di tangan para pelukis yang tidak profesional itu.

Trotoar yang selama ini selalu jadi padang Kurusetra alias medan pertempuran antara pejalan kaki yang merupakan pemilik hak satu-satunya atas tempat itu dengan para pesepeda motor, pedagang kaki lima, preman, dan tukang parkir ilegal, kini diperlebar walau dengan bentuk yang kikuk.

Bahkan sungai atau yang lebih tepat kali pun didandani dengan diberi sarung hitam dan pewangi, walau akhirnya diubah katanya dengan penghilang bau. Sesuatu yang konon sangat tidak normal dilakukan terhadap sungai di manapun di dunia ini.

Tapi ya itulah yang namanya pupuran. Wajah yang gradakan, bocel sana-sini, bopeng, berusaha ditutup dengan lapisan bedak. Kalau satu lapis kurang, bisa ditambah lapis kedua, tiga, dan seterusnya. Makin tebal makin tidak alami memang, tapi bagi sebagian orang mungkin tetap lebih membuat percaya diri bertambah daripada bila tidak ditutupi. Asal tidak keterusan menebalkan pupur dan akhirnya jadi bahan tertawaan karena wajah jadi seperti badut saja sih.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.