Parkir Menginap di Stasiun Bogor

Setelah sekian lama menikmati nyamannya kereta rel listrik commuter line di jam-jam tidak sibuk, akhirnya kemarin saya mulai mencoba memarkir kendaraan pribadi di stasiun Bogor dan menginapkannya selama beberapa hari. Mungkin saya agak ketinggalan zaman dalam perkara ini, tapi begitulah saya ini. Dibesarkan pada masa-masa di mana angkutan umum bukanlah pilihan yang mengenakkan. Tidak aman apalagi nyaman. Jadi selalu merasa was-was ketika harus naik angkutan umum. Tapi tentu saja, hal itu sedikit demi sedikit terkikis oleh perbaikan di sana-sini, terutama yang dilakukan oleh PT. KAI.

OK, kembali ke inti tulisan ini. Jadi kali ini saya naik motor dan ingin menginapkannya di stasiun Bogor, pada hari kerja, karena hendak berkeperluan selama beberapa hari di Jakarta. Awalnya agak menakutkan karena ada yang bilang bahwa parkir di stasiun Bogor pasti penuh dan tidak akan kebagian tempat jika tidak datang subuh-subuh. Jadi siap-siaplah mencari tempat penitipan motor di dekat stasiun. Itu tentu tidak kalah menakutkan karena dari berita yang saya baca, tempat penitipan motor tak resmi itu beberapa kali dirazia dan motor-motor yang dititipkan jadi sulit untuk diambil pemiliknya. Hal lain yang tidak kalah membuat khawatir adalah, saya tidak tahu di mana pintu masuk area parkir di stasiun Bogor. Beberapa twit yang saya baca mengatakan bahwa dia harus berputar-putar satu jam sebelum akhirnya menemukan jalan masuknya.

Nyatanya yang terjadi adalah bahwa memang mencari pintu masuk area parkir di stasiun Bogor tidak semudah yang saya kira. Tapi rasanya itu karena saya hanya mengikuti logika dan tidak bersabar mengikuti rambu-rambu yang sebenarnya mengarahkan ke pintu masuk area parkir itu. Karena ketika saya mengikuti rambu-rambu dengan taat, walau agak berputar-putar, akhirnya ketemu juga pintu masuknya.

Lahan parkir stasiun Bogor. Foto: KAPM

Pintu masuk ke area parkir stasiun Bogor sudah dilengkapi pintu otomatis yang canggih. Tinggal tempel kartu uang elektronik, maka palang pintupun terbuka. Dari petugas parkir yang saya ajak ngobrol, saya dapat info bahwa kartu uang elektronik yang dipakai untuk membuka palang pintu tidak harus berisi saldo. Rp0 pun bisa, karena saat keluar nanti pemilik kendaraan tetap bisa membayar dengan uang tunai saat saldo di kartunya tidak cukup. Namun tentu saja kartu yang dipakai untuk masuk harus sama dengan kartu yang dipakai untuk keluar nantinya. Ini rasanya sangat praktis karena saya tidak lagi harus menyimpan kartu atau tiket parkir secara terpisah. Cukup menyimpan satu kartu uang elektronik yang akan saya gunakan juga untuk naik KRL Commuter Line.

Dari pintu masuk saya melewati deretan area parkir mobil yang walau sudah pukul 10.00 WIB masih menyisakan banyak tempat kosong. Jadi, tidak perlu takut juga bila ingin menitipkan mobil di stasiun Bogor karena area parkirnya luas dan ketersediaannya mencukupi kebutuhan. Sayapun lanjut ke area parkir motor yang berada di lantai 2. Di sana saya dikagetkan oleh ketersediaan tempat parkir yang cukup banyak dan kenyamanan area parkirnya, lengkap dengan beberapa petugas parkir yang tampak sibuk menjaga kendaraan-kendaraan yang terparkir di sana sambil merapikan posisi parkirnya. Ini benar-benar di luar dugaan. Karena saya mengira setidaknya saya harus menggeser-geser motor lain demi memarkirkan motor saya yang cukup besar ini.

Setelah memarkir kendaraan dengan rapi, sayapun mendekati salah seorang petugas parkir untuk bertanya apakah benar di area ini boleh parkir menginap. Dengan sangat informatif petugas parkir itu mengatakan bahwa ada sekitar seribuan motor yang parkir menginap setiap harinya di stasiun Bogor ini, jadi saya tidak perlu khawatir. Biaya parkirnyapun bagi saya cukup terjangkau: Rp8000/hari.

Parkir motor di lantai 2, aman, nyaman, rapi, tidak kehujanan & kepanasan. Foto: KAPM

Kesimpulannya, setelah tiga hari menginapkan motor di area parkir stasiun Bogor, menitipkan kendaraan di stasiun ini untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke tengah kota atau bahkan ke bandara sekalipun sangatlah aman dan nyaman. Kini saya tidak perlu lagi jauh-jauh mengendarai kendaraan pribadi dan mengarungi kemacetan kota Jakarta yang makin hari makin sadis. Cukup menaruh kendaraan di stasiun lalu lanjut naik kendaraan umum!

Update:
Setelah sebelumnya saya menginapkan motor di stasiun Bogor, seminggu kemudian saya juga mencoba menginapkan mobil di stasiun yang sama. Hasilnya, menginapkan mobil di stasiun Bogor tidak kalah nyaman dengan menginapkan motor. 

Biaya parkir mobil di stasiun Bogor per 24 jam adalah Rp20.000. Agak mahal memang, tapi ketika cuaca tidak memungkinkan atau harus membawa barang yang cukup banyak, maka menginapkan mobil di stasiun bisa jadi pilihan yang baik.

Perhitungan parkirnya konon berbeda dengan motor. Bila parkir motor adalah Rp8.000 per hari (ketika waktu menunjukkan pukul 00.00 maka dianggap sudah berganti hari dan akan dikenai biaya Rp8.000 lagi) maka perhitungan parkir mobil adalah Rp20.000 per 24 jam. Jadi bila masuk pukul 10.00 dan keluar sebelum pukul 10.00 di hari berikutnya dihitungnya Rp20.000, namun bila lebih maka langsung masuk dikenai biaya Rp20.000 lagi karena dianggap menginap untuk 24 jam berikutnya.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.