Ke(m)Bali – Bagian 1

Pagi ini saat membuka sebuah sosial media saya merasa tertampar. Jadi ceritanya seorang teman menulis (silakan dibaca tulisannya di sini) bahwa dunia blogging saat ini makin sepi sementara media sosial yang hanya menampung 140-160 huruf makin ramai dan heboh bahkan katanya sampai bisa menimbulkan bahaya dan ketidak stabilan nasional. Mengerikan ya…

Lalu kenapa saya tertampar? Lha ya jelas saya tertampar karena saya ini termasuk orang yang sudah bayar tempat untuk ngeblog mahal-mahal tapi malah jarang nulis di blog dan lebih banyak (baca: sibuk) bermedia sosial, membuat komentar-komentar pendek tanpa pikir panjang, meneruskan berita-berita (baca: cerita-cerita) nyinyir tanpa cek kebenaran, menyindir-nyindir dengan no mention, dan lain-lain.

Nah, karena itulah maka pagi-pagi, masih sarungan, saya kembali nyicil menulis di sini lagi walau sambil melirik-lirik media sosial yang gerakannya sangat cepat itu.

Sebagai pemanasan, saya mau menulis tentang perjalanan ke Bali kemarin.

Buat saya Bali memang tempat yang ngangenin. 12 tahunan masa produktif yang saya habiskan di sana telah membuat teman-teman bahkan klien menjadi seperti keluarga sendiri, sehingga pergi Bali bagi saya adalah serasa kembali alias pulang ke rumah sendiri.

Kepulangan saya kali ini memang istimewa, selain membawa pasangan untuk diperkenalkan pada Bali yang tak habis-habis memberi inspirasi untuk kegiatan kreatif (dia walau lulusan ekonomi tapi lebih banyak berkutat dengan seni dan tulis-menulis) juga karena di akhir kepulangan ini keluarga besar klien yang sudah seperti keluarga sendiri itu akan berkumpul dengan lengkapnya.

Begitu sampai Bali, teman-teman lama langsung berkumpul. Kami langsung makan-makan seru, tentu saja makanan adalah juga satu yang yang saya rindukan dari Bali. Tidak berhenti sampai situ, teman-teman juga dengan senang hati meminjamkan aneka barang dan peralatan yang membuat kepulangan saya ini jadi lebih nyaman.

Dua minggu pertama perjalanan ini murni urusan pekerjaan. Pontang-panting sana-sini karena seperti biasa ada saja hal-hal yang membuat pekerjaan ini jadi penuh kejutan. Mulai dari para pekerja yang tak kunjung kembali bekerja setelah libur lebaran sampai ke pilihan-pilihan sulit yang harus diambil karena kami sungguh berkejaran dengan waktu.

Tapi bukan pekerjaan saya namanya kalau di tengah kerusuhan itu tidak ada kesenangan dan keseruan. Selain tiap malam saya bisa jalan-jalan mencobai makanan baru bersama teman-teman, ada juga saat-saat di mana saya dan klien berjalan-jalan sebentar untuk menghilangkan kepenatan.

OK, pemanasan menulisnya sampai di sini dulu. Nanti biar berlanjut ke bagian kedua yang isinya tentang paruh kedua keberadaan saya di Bali. Paruh kedua ini isinya lebih ke seseruan karena pekerjaan akhirnya selesai dan tiba waktu untuk berkumpul dengan keluarga besar. Juga kejutan di akhir perjalanan yang akhirnya menghasilkan sesuatu yang lumayan banget.

 

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.