Film: Aruna dan Lidahnya (2018)

Lagi-lagi tulisan yang agak telat, tapi biarlah, toh blog ini belakangan terlalu sepi karena saya malas menulis.

Kali ini adalah sebuah film dalam negeri yang judulnya sama dengan judul buku yang sebenarnya sudah saya baca beberapa tahun lalu. Bukunya sendiri bagi saya tidaklah terlalu istimewa, kalau tidak mau dibilang jelek. Saya membelinya karena si penulis, Laksmi Pamuntjak, pernah menulis sebuah panduan tempat-tempat makan di Jakarta yang bagi saya super lengkap karena tidak hanya berisi nama-nama restoran yang berbentuk bangunan, tapi juga tempat-tempat makan pinggir jalan alias kaki lima dan tempat-tempat makan di gang-gang sempit (salah satunya tempat makan langganan saya: Bakmi Amoy). Terus terang saya salut atas buku dan risetnya yang tidak main-main, walaupun saya tak pernah sanggup untuk membelinya karena dibandrol dengan harga yang begitu mahal.

Dengan harapan yang begitu besarlah saya membeli dan membaca buku “Aruna dan Lidahnya” yang terbit pada tahun 2014. Namun ya itu, rupanya harapan saya pupus. Bukunya jelek. Makanya begitu filmnya mulai dipromosikan, dengan aktor dan aktris yang lumayan, sayapun menaruh harapan besar. Dan kali ini harapan saya tidak lagi pupus.

Film yang digarap dengan manis ala film “Arisan” (2003) ini bercerita tentang Aruna (Dian Sastrowardoyo) yang mendapat tugas untuk menginvestigasi kasus flu burung yang konon merebak di berbagai daerah. Tugas ke beberapa daerah itulah yang kemudian ditunggangi oleh teman Aruna, Bono (Nicholas Saputra), yang adalah seorang koki, untuk mencobai kuliner khas daerah yang mereka kunjungi. Bono mengajak serta Nadhezda (Hannah Al Rashid), seorang penulis dan pecinta makanan, yang sudah lama disukainya dan dalam perjalanan mereka bertemu dengan Farish (Oka Antara), mantan rekan kerja Aruna, yang tidak terlalu suka kulineran, apatis, dan merupakan sosok yang terlalu serius.

Tentu saja investigasi tentang kasus flu burung hanya menjadi latar. Makanan, tempat makan, filosofi tentang makanan, dan tentu saja kisah percintaan lebih menjadi pokok dalam film ini. Begitu banyak gambar apik tentang makanan khas daerah yang berhasil membuat perut keroncongan dan lidah bergoyang. Karena itulah film ini bagi saya adalah jauh lebih baik daripada bukunya dan masuk dalam daftar patut ditonton.

NB:
Aruna adalah Cinta dengan profesi yang berbeda.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.