Dilema Ojek Daring dan Evolusi Transportasi Umum di Jakarta

Artikel ini tayang dan menjadi artikel pilihan editor di Kompasiana pada 19 Januari 2019.

Jakarta sempat berbenah. Kemacetan di jalan raya yang sudah makin tak tertahankan membuat tiap periode gubernurnya menjanjikan angkutan umum yang lebih baik. Sebutlah TransJakarta yang mulai diperkenalkan pada tahun 2004. Angkutan umum ini sempat berhasil menjadi evolusi dari bus-bus kota di Jakarta yang keadaannya tidak karuan.

Haltenya yang kinclong dengan dominasi warna perak, memberi kesan milenium yang canggih. Sistem pembayarannya yang memakai kartu khususpun tak ketinggalan ikut memberi kesan bahwa angkutan umum yang ini benar-benar beda! Tak perlu lagi menyiapkan uang receh yang akan dikumpulkan oleh kondektur yang bau matahari.

Sopirnyapun dididik khusus sehingga layak memakai jas saat mengendarai busnya. Di dalam bus, AC yang dingin, tempat duduk empuk, serta pegangan tangan untuk mereka yang berdiri, membuat publik membayangkan angkutan umum di negara-negara Eropa yang sering terlihat di film-film. Setidaknya pada awal dikenalkan bus TransJakarta benar-benar layak menjadi kebanggaan warga Jakarta.

Namun kemudian, TransJakarta kembali menjadi angkutan umum biasa saja. Jalurnya yang tidak pernah benar-benar steril dari kendaraan lain membuat jadwal keberangkatan dan ketibaan bus ini tidak pernah tepat. Rencana awalnya tentu saja karena bus ini memakai jalur khusus maka dapat dihitung berapa lama bus menghabiskan waktu dari satu titik ke titik lainnya. Namun pada kenyataannya bus ini tetap saja harus berjibaku dengan macetnya Jakarta karena jalurnya sering semena-mena dipenuhi oleh kendaraan lain. Belum lagi memang di beberapa tempat bus TransJakarta harus berbagi dengan kendaraan lain di jalur umum.

Ketidaktepatan jadwal kedatangan dan keberangkatan bus ini kemudian berimbas pada para pemakainya. Seringkali (kalau tidak mau disebut setiap kali) calon penumpang bertumpuk di halte karena bus tak kunjung datang mengangkut. Dan tentu saja, ketika sudah menunggu sekian lama bus baru datang, hukum rimba mulai bicara. Siapa yang kuat mendorong atau tak malu menyerobot antrean maka dia yang akan masuk duluan ke dalam bus dan itu terjadi pada setiap halte yang dilalui.

KRL adalah moda transportasi umum lain yang telah berevolusi. Di Jabodetabek masyarakat mengenalnya sebagai Commuter Line (mungkin lagi-lagi supaya terdengar lebih canggih dan berbudaya) walau dulu namanya lebih Indonesia: “Kereta Rel Listrik Jabodetabek”.

Harian Kompas pada 24 Oktober 2018 menurunkan tulisan berjudul “Perubahan Pada Kereta Api” dalam kolom Arsip, yang menggambarkan bahwa dalam 10 tahun terakhir KRL di Jabodetabek telah berbenah dan menjadi angkutan umum yang aman serta nyaman bagi penumpang pada jam-jam tertentu.

Kompas menggambarkan bahwa pada tahun 1972 penumpang yang terjatuh dari atap gerbong kereta adalah hal yang wajar. Lalu pada 2008 mulai digalakkan razia tiket, penyemprotan cat pada penumpang yang masih nekat naik ke atap gerbong, serta penambahan paku pada bagian atap gerbong kereta, walau hasilnya masih minim.

Sumber: Kompas.id
Sumber: Kompas.id

 

Kini di tahun 2018, stasiun KRL Jabodetabek telah steril dari pedagang asongan. Tidak tampak lagi penumpang yang duduk di atap gerbong kereta. Semua masuk dan keluar stasiun dengan menempelkan kartu elektronik yang canggih. Petugas di lapangan sudah tidak lagi berurusan dengan uang.

Jadwal kedatangan dan keberangkatanpun dapat diakses melalui aplikasi di gawai selain tentunya diumumkan terus-menerus oleh pengeras suara di stasiun oleh mas-mas atau mbak-mbak dengan gaya bicara yang santai dan tidak kaku. KRL Jabodetabek benar-benar berevolusi menjadi angkutan umum yang layak ditumpangi pada jam-jam tertentu di luar jam sibuk.

Lalu bagaimana dengan angkutan umum lain? Tampaknya evolusi memang tak pernah berjalan secara merata. Ada yang berevolusi duluan dan tentu saja ada yang tertinggal di belakang. Di saat dua alat transportasi tadi perlahan berubah jadi lebih baik, di tengah Ibu Kota ini masih saja ada bus-bus dengan asap hitam yang mengepul pekat dari knalpotnya. Beberapa tampak miring karena beban yang berlebihan. Beberapa lagi tampak reot karena cat yang sudah ditumpuk entah berapa kali mulai lepas dan menunjukkan karat aslinya.

Bukan hanya bentuk fisik, mental pengemudinyapun masih tertinggal di masa lalu. Jangan bicara tentang ketepatan waktu, di mana mereka akan berhenti saja hanya Tuhan yang tahu.

Di tengah-tengah proses evolusi yang tak merata inilah ojek daring (ojek online) muncul menjadi jembatannya. Ketimpangan antara evolusi beberapa angkutan umum dengan keterlambatberkembangan angkutan umum lainnya diisi oleh keberadaan ojek daring. Maka tak heran jika sekarang banyak orang memanfaatkan ojek daring untuk berangkat dari rumah menuju stasiun KRL terdekat, naik KRL, lalu menumpang ojek daring lagi dari stasiun KRL menuju ke tempat kerja dan sebaliknya. Jadilah di seputar stasiun banyak tukang ojek daring mangkal. Itu juga terjadi dengan TransJakarta.

Hal ini menandakan bahwa banyak orang enggan naik angkutan umum yang ketinggalan zaman alias belum berevolusi. Sudah tidak zamannya naik kendaraan umum yang tak nyaman dengan sopir yang ugal-ugalan. Ongkos ojek daring yang walau sekilas terlihat lebih mahal namun mampu mengantar penumpang dari satu titik ke titik tujuannya tanpa harus berganti2 angkutan umum, menunggu dengan tidak pasti, tentu menjadi pilihan yang menggiurkan.

Dilema terjadi ketika sebenarnya kendaraan roda dua bukanlah kendaraan yang bisa dijadikan sebagai angkutan umum menurut Undang-Undang yang masih berlaku. Pemerintah tampak kelu dalam menghadapi masalah ini. Di satu sisi ada kebutuhan besar masyarakat akan angkutan umum yang belum mampu mereka penuhi namun di sisi lain ada juga peraturan perundang-undangan yang tentu saja tidak boleh mereka langgar. Belum lagi dari sisi sosial ekonomi di mana sudah begitu banyak orang yang pendapatannya bergantung pada kerja sebagai pengemudi ojek daring. Ini masalah yang ruwet.

Lalu apa solusi dari masalah ini? Setidaknya ada beberapa hal yang bisa menjadi masukan bagi pemangku kebijakan dalam mencari jalan keluar atas masalah ini. Pertama, melihat dari pilihan berangkutan umum masyarakat Jakarta maka evolusi angkutan umum di Jakarta harus merata. Jangan sibuk mengembalikan angkutan masa lalu yang tidak manusiawi untuk kembali beroperasi di Jakarta, namun perbarui dan kembangkanlah transportasi umum yang sudah ada agar mencapai standar kenyamanan, keamanan, serta kepastian yang baik. Segera selesaikan masalah badan hukum angkutan-angkutan umum di Jakarta. Jangan lagi beri ampun pada angkutan umum yang sudah tidak layak beroperasi karena bagaimanapun selain tidak nyaman, angkutan umum model itu sangat tidak aman.

Kedua, perbaiki sistem perekrutan sopir angkutan umum karena bagaimanapun mereka adalah tulang punggung dari terciptanya angkutan umum yang lebih baik di Jakarta. Ciptakan standar yang baik agar keberadaan angkutan umum menjadi solusi bagi kemacetan Jakarta dan bukan malah seperti yang saat ini terjadi, ketidakdisiplinan pengendara angkutan umum justru sering menjadi sumber petaka kemacetan Jakarta tercinta.

Bukan rahasia umum bahwa di negara-negara maju pengendara angkutan umum hidupnya sejahtera. Mereka mendapat gaji yang layak sehingga dengan penuh dedikasi dan disiplin mengantar para penggunanya untuk sampai ke tujuan dengan selamat. Hal itu patut kita contoh.

Ketiga, terapkan hukum dengan tegas. Penerapan hukum dengan tegas adalah pendorong kuat untuk terciptanya disiplin di masyarakat. Saya yakin tak ada satupun sekolah di Indonesia yang tidak mengajarkan bahwa bila lampu merah menyala maka kendaraan harus berhenti. Jadi pengetahuan sudah ada, namun pengetahuan ini kemudian menjadi hambar ketika pada praktiknya pelanggaran atas pengetahuan itu tidak berdampak, tidak ada hukumnya. Maka tak heran, walau semua orang tahu bahwa saat lampu merah menyala harus berhenti atau di bawah rambu “S coret” kendaraan tidak boleh berhenti, tetap saja banyak yang melanggarnya.

Bila setidaknya tiga hal diatas dijalankan, maka yakinlah bahwa angkutan umum di Jakarta akan menjadi lebih baik dan banyak orang yang akan beralih untuk memakainya.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.