Pupur

Kalau orang lain senang menggunakan kata “gincu” untuk menunjukkan aktivitas berdandan, maka saya lebih memilih istilah “pupur”. Pupur alias bedak menurut saya lebih luas menutupi wajah yang sedang didandani  sehingga lebih mudah dilihat ketika makin tebal pupurnya maka makin tak terlihat alamilah orang yang sedang berdandan itu. Hal itu juga yang akhir-akhir ini sering kita […]

Continue Reading

Ke(m)Bali – Bagian 1

Pagi ini saat membuka sebuah sosial media saya merasa tertampar. Jadi ceritanya seorang teman menulis (silakan dibaca tulisannya di sini) bahwa dunia blogging saat ini makin sepi sementara media sosial yang hanya menampung 140-160 huruf makin ramai dan heboh bahkan katanya sampai bisa menimbulkan bahaya dan ketidak stabilan nasional. Mengerikan ya… Lalu kenapa saya tertampar? Lha ya […]

Continue Reading

Ketika Hukum Jadi Panglima, Apa Pangkat Etika dan Tata Krama?

Beberapa hari lalu saat sedang makan di sebuah warteg di bilangan Kukusan, Depok, secara tidak sengaja saya mendengar sebuah berita tentang usul larangan bagi mantan narapidana kasus korupsi untuk mencalonkan diri dalam pemilu legislatif. Berita itu kemudian berlanjut dengan riuhnya tanggapan dari para legislator yang mempertanyakan dasar hukum larangan itu. Umumnya mereka mengatakan bahwa bila […]

Continue Reading