Dua Film Berbau Religi di Oscar Kemarin

Dua Film Berbau Religi di Oscar Kemarin

Perhelatan terbesar dunia perfilman sejagat tahun 2017 memang sudah hampir sebulan lalu selesai. Walau menyisakan insiden yang konon adalah yang terbesar dan terparah sepanjang sejarah penyelenggaraannya, tapi setidaknya Oscar tahun ini tidak lagi dianggap terlalu putih. Bahkan saking tidak ingin dianggap terlalu putihnya, beberapa pemenang piala berbentuk manusia berdiri tegak dengan membawa tongkat ini, menurut saya hanyalah sekedar demi “kebenaran a la politik” alias “politically correct”. Yang menarik bagi saya adalah bahwa setidaknya ada dua film peraih nominasi Oscar tahun…

Read More Read More

Searah

Searah

Di tulisan sebelum ini saya sempat berjanji akan menulis sesuatu yang terinspirasi dari film yang saya tonton. Kali ini saya hendak menunaikan janji itu dengan aneka tambahan pemikiran yang terjadi belakangan ini. Bertahun-tahun lalu dosen saya pernah bilang bahwa ilmu yang kami dapatkan di FISIP berbeda dengan ilmu yang didapatkan oleh mereka yang kuliah di jurusan teknik apalagi kedokteran. Ilmu di FISIP sebenarnya adalah ilmu yang bisa dipelajari oleh siapa saja¬†dengan hanya membaca buku-buku yang umum ada di mana-mana. Tapi…

Read More Read More

[Film] Spear: 1 jam 24 menit penuh keseksian belaka

[Film] Spear: 1 jam 24 menit penuh keseksian belaka

Entah karena saya habis minum kopi Vietnam yang kental dan manis atau karena mulut saya habis berdarah-darah akibat dibersihkan karang giginya, tapi selama menonton film ini jantung saya rasanya dag dig dug dweerrr Daia. Jadi ceritanya hari Sabtu yang basah kemarin saya diajak nonton Festival Film Australia yang digelar di Senayan City 26-29 Januari 2017. Karena saya sedang tidak ada kegiatan dan Bintang juga sedang pulang untuk berkumpul dengan keluarga besarnya merayakan Imlek, maka ya saya ikut saja. Film pertama…

Read More Read More

[Film] Istirahatlah Kata-Kata: Manjakan Mata Tanpa Banyak Bicara

[Film] Istirahatlah Kata-Kata: Manjakan Mata Tanpa Banyak Bicara

Saat mengetahui bahwa sebelum diputar di bioskop-bioskop di Indonesia film yang juga berjudul “Solo, Solitude” ini telah mendapat penghargaan di beberapa festival film internasional, saya curiga bahwa film ini akan lebih banyak menampilkan keindahan dari sisi sinematografi dibandingkan cerita tentang “keativisan” Widji Thukul atau cerita tentang masa kelam Indonesia di mana sebuah rezim pernah berkuasa dan orang-orang yang vokal pada masa¬†itu seringkali dihilangkan menghilang bak ditelan bumi. Dan kecurigaan sayapun terbuktilah saat akhirnya menonton film ini. Film “Istirahatlah Kata-Kata” memang…

Read More Read More