Harapan

Humans actually don’t have that much control. We think we do, we think we can manage so many things. But there’s only a short list of what human can control.Nadine

Kutipan kata-kata di atas itu, pertama: membuat saya melongo kaget karena keponakan, yang di ingatan saya masih kecil, rupanya sekarang sudah berumur 14 tahun dan sudah begitu pintar mengolah hal filosofis menjadi kata-kata yang indah. Kedua: membuat saya berpikir bahwa menjadi dewasa adalah menjadi sadar bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan sendiri dan ketika hal-hal tersebut menjadi tidak terkendali maka orang yang dewasa harusnya mampu menghadapinya. Ketiga: saya diingatkan tentang hal mendasar yaitu bahwa harapan tidak selalu sama dengan kenyataan. Karenanya, mengharap sesuatu berarti bersiap untuk kecewa.

EmilysQuotes.Com-unknown-disappointment-people-blame-sad-mistakes

Dalam rentang hidup saya, yang baru seumur jagung (dikali 10), entah sudah berapa banyak kekecewaan yang saya hasilkan akibat begitu tinggi menaruh harapan. Mulai dari hal-hal kecil seperti janji temu yang mendadak dibatalkan. Barang-barang yang sudah dibeli mahal tapi akhirnya rusak juga. Acara yang hilang akibat mendadak ada hal-hal yang menghalanginya. Orang-orang yang berjanji akan selalu sejalan tapi mendadak hilang karena lupa akan janjinya. Hingga hal-hal besar seperti cita-cita yang tidak tercapai akibat begitu banyak hal. Presiden pilihan dalam pemilu yang rupanya tidak menjalankan janji-janjinya. Juga rencana-rencana besar yang tidak berjalan semestinya atau bahkan tidak terjadi sama sekali.

Saya kemudian teringat pada pertanyaan yang pernah dilontarkan oleh seorang teman: “Sebenarnya, apa sih yang kita punya?”

Apakah barang-barang yang ada di rumah adalah punya kita? Kalau memang iya, mampukah kita menolak keausan, kerusakan, atau bahkan kemusnahannya?

Apakah keluarga adalah punya kita? Kalau memang iya, mampukah kita menolak hilangnya anggota keluarga?

Apakah tubuh ini adalah punya kita? Kalau memang iya, mampukah kita menolak bila suatu saat tubuh ini mati dan musnah?

Keponakan saya tadi juga menyatakan hal yang kurang lebih sama, hanya saja dalam kata-kata yang jauh lebih hidup daripada kata-kata saya. Apa yang sebenarnya bisa kita kontrol? Selama ini kita hanya berpikir bahwa kita bisa mengontrol begitu banyak hal. Tapi pada kenyataannya, bahkan rencana yang paling matang sekalipun bisa mendadak berantakan karena hal-hal yang tidak bisa kita kontrol.

14757a6d6a4f4971956dbe5a72bcee8d

Saat berdiam dan sadar, maka begitu jelas terlihat bahwa yang kita miliki hanyalah saat ini. Bahkan detik yang sudah terlewat, tidak mungkin kita miliki lagi. Sedangkan detik akan yang datang, belum tentu menghampiri. Kalau sudah begitu, masihkah kita akan sibuk mengontrol segalanya? Kalau memang iya, untuk apa?

You may also like

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *