Sugih

Saya bisa jadi adalah orang yang terlambat memuji buku trilogi karya Kevin Kwan: “Crazy Rich Asians”, “China Rich Girlfriend”, dan “Rich People Problems”. Itu karena baru beberapa minggu lalu saya mendapatkan buku-bukunya, mulai membaca, dan selesai hanya dalam beberapa hari saja. (Ditambah lagi tulisan ini terpendam selama beberapa bulan di folder draft dan baru selesai saya sunting hari ini ketika lagi-lagi ada yang perlu dinyinyirin di sebuah grup).

Tidak perlu berlama-lama untuk sadar bahwa buku yang ditulis dengan gaya satir ini bukan hanya membuka mata tentang banyak hal yang tidak pernah saya tahu sebelumnya, tapi juga membuat saya menangis tersedu-sedu meratapi nasib, yang dalam istilah saya dan Bintang “hanyalah kutunya kutu tahi kutu”, dalam pusaran peredaran uang di dunia ini.

Ya, buku ini bisa jadi hanyalah hiburan dan fiksi semata. Beberapa orang juga yang menganggap buku-buku Kwan hanyalah semacam opera sabun yang menyenangkan. Tapi tidak sedikit majalah dan media internasional lain yang mengatakan bahwa buku ini berhasil menggambarkan banyak hal tentang orang yang gila-gilaan kayanya, yang seringkali keberadaannya tidak bisa dilihat oleh orang kebanyakan, apalagi orang yang hanyalah “kutunya kutu tahi kutu” seperti saya ini.

Buat saya pribadi, membaca trilogi karya Kwan juga terasa seperti dipukuli sampai babak belur. Betapa selama ini bukan main sombongnya saya. Sok kaya ketika jalan-jalan ke mal. Menenteng tas-tas belanja serasa seperti raja dunia. Mengeluarkan kartu kredit dan tidak lupa untuk selalu memanfaatkan cicilan 0% untuk beli barang-barang bermerek. Belum lagi sok makan di tempat-tempat mahal yang juga adanya di mal Ibukota.

Bukan hanya itu, cara saya dalam menjembreng segala kegiatan yang terasa ‘wah’ di media sosial dan grup-grup chat dengan selalu berfoto dengan barang mahal yang baru saya beli lalu mengunggahnya, juga ketika makan di tempat mahal, foto dulu, lalu upload. Jalan-jalan ke tempat mahal, foto dulu, lalu upload. Semua demi dilihat oleh semua teman dan sanak saudara. Semua demi terlihat kaya bahagia. Juga rupanya amat memalukan.

Dalam bukunya, Kwan membuat semacam benang merah, bahwa mereka yang benar-benar kaya justru adalah mereka yang tidak butuh terlihat super kaya. Mereka biasanya terdidik dengan baik dan bisa terlihat kaya justru bukan karena pameran kekayaan secara fisik, melainkan dari cara mereka berpikir dan bertingkah laku. Ini bagi saya bukan fiksi, tapi nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Sebaliknya, seperti yang hampir semua orang tahu dan juga terjadi di dunia nyata, bahwa mereka yang nggak kaya-kaya amat tapi sok kaya, apalagi yang OKB alias orang kaya baru, justru selalu jadi kelompok yang lucu dan kocak. Mereka kedodoran dalam memamerkan kekayaan karena tidak didukung oleh pendidikan yang baik sejak usia dini. Mereka mungkin memang sekarang jadi orang kaya, tapi mentalnya, cara pikirnya, sikapnya, tak pernah siap untuk jadi orang kaya. Selalu saja pameran kekayaan mereka bukan membuat decak kagum, tapi justru menghasilkan tertawaan. Pameran kekayaan mereka norak. Janggal. Tak sedap dipandang.

Biarlah pujian pada buku-buku Kwan ini saya tutup dengan sebuah kata mutiara:

“Money can take a person out of kampung but money can’t take the kampungan out of a person”.

 

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *