Laron

Sewaktu kecil, saat musim hujan tiba, hampir tiap malam kami kedatangan tamu-tamu kecil yang beterbangan menari-nari di sekitar lampu beranda yang menyala. Bersamaan dengan itu pula cerita tentang rempeyek yang terbuat dari hewan-hewan kecil bernama laron itu selalu berhembus dari mulut eyang-eyang atau anggota keluarga yang sudah berumur, yang kebetulan sedang bertandang ke rumah. Mereka sekaligus juga bercerita tentang teknik menangkap laron, yaitu dengan menaruh ember berisi air tepat di bahwa lampu yang menyala. Pantulan sinar lampu di air akan menarik laron untuk berdatangan dan pada saat mereka mendarat di air, maka mereka tak bisa terbang lagi, saat itulah laron bisa ditangkap dengan mudahnya.

Kenangan akan laron itu kemarin tiba-tiba mencuat saat seorang sahabat bercerita tentang orang-orang di sekitarnya. Ia berkisah sambil tak henti menggelengkan kepala saat membaca orang-orang di grup chat tempatnya terpaksa bergabung. Di sana begitu banyak orang yang rajin ‘menjilati’ anggota grup yang sedang ‘bersinar’. Mereka memuja, memuji, dan selalu ingin tampak dekat dan akrab dengan ‘sinar’ itu.

“Biasalah, kalau ada orang yang sedang jaya, banyak orang mengerumuni,” sahut teman saya yang lain.

Sepulang dari kumpul-kumpul itu saya jadi berpikir, jangan-jangan saya ini termasuk jenis orang yang bertingkah seperti laron. Hanya senang mengerumuni orang ketika ada di masa jaya atau setidaknya sedang dalam keadaan senang. Ketika cahaya orang itu mulai redup, redup jugalah keinginan saya untuk dekat-dekat dengannya.

Atau bisa juga saya ini orang yang suka mengelu-elukan orang supaya bisa dapat keuntungan dari orang itu. Setidaknya kecipratan sedikit-sedikit lah kejayaannya. Nanti ketika orang itu sudah tidak jaya lagi, maka saya akan jadi orang pertama yang meninggalkannya, dan bukan hanya itu, saya juga ikut menghembuskan cerita-cerita negatif tentang orang yang tadinya saya elu-elukan.

Seorang teman dalam perjalanan merantau saya pernah bilang: “Gue lebih milih datang ke acara duka daripada acara senang-senang. Kalau acara senang-senang mah udah pasti banyak orang yang datang. Di acara duka, orang lebih butuh ditemani juga kan.”

Saya jadi berpikir bahwa kata-katanya bisa diartikan lebih luas. Bahwa disaat seorang masuk dalam masa ‘redup’ sebenarnya dia lebih membutuhkan teman daripada di mana ‘terang’. Sayangnya, memang lebih banyak orang yang tingkahnya seperti laron. Hanya suka berkerumun di saat ada yang bersinar terang.

“Kalau laron mah ngejar lampu karena insting! Lha manusia ngejar ‘lampu’ karena rakus!” tutup teman saya malam itu.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *