48 Jam di Jogja (Bagian 2 – Selesai)

Hari ke dua kami mulai dengan sarapan di penginapan. Pilihannya tak banyak, rasanyapun tak seberapa. Tapi memang bukan itu tujuan kami menginap di losmen. Kami lebih memilih makan makanan khas Yogya daripada terlalu kenyang makan di hotel.

Tujuan pertama kami hari ini adalah Museum Ullen Sentalu di daerah Kaliurang. Museum yang namanya menginspirasi saya untuk menamakan blog ini, sebenarnya sudah berkali-kali saya datangi. Namun saya tak pernah bosan. Entah kenapa museum ini memberi kesan yang begitu mendalam bagi saya. Mungkin karena suasananya yang selalu syahdu dengan udara khas Kaliurang yang sejuk dan dingin, atau mungkin juga karena banyak kenangan yang saya titipkan ke setiap ruang yang ada di museum sejarah Jawa ini.

Perjalan kali ini, seperti perjalanan hari pertama kemarin, bersenjatakan peta elektronik dan pengisi batere portabel. Walaupun saya sudah beberapa kali ke Ullen Sentalu, tapi baru kali inilah saya pergi ke sana tanpa supir atau teman yang memang asli Yogya dan naik motor pula! Jadi tantangannya agak bertubi.

Perjalanan bermotor dari daerah Malioboro ke Ullen Sentalu memakan waktu kurang lebih 45 menit. Sudah barang tentu peta elektronik membawa kami melewati jalan-jalan potong yang unik. Kadang lewat perumahan, kadang tengah sawah, kadang-kadang pula jalanan yang ditutup. Untungnya kami berhasil sampai di sana. Mengenai apa yang kami lihat di Ullen Sentalu, rasanya sama saja dengan perjalanan saya sebelumnya. Karena itu saya hanya akan memberikan tautan saja untuk yang penasaran seperti apa Ullen Sentalu itu.

Escargot di Beukenhof, Ullen Sentalu, Yogyakarta.

Selesai berkeliling museum, saya dan Bintang menyempatkan duduk-duduk santai di Beukenhof sambil menikmati kopi, sedikit cemilan, dan membicarakan rencana perjalanan kami berikutnya untuk makan siang.

Dan setelah rehat sejenak itu, kamipun kembali bergelinding di aspal panas Jogja menuju tempat makan siang yang kata seorang teman cukup unik dan patut dicoba. Adalah Warung Mbah Cemplung di daerah Kasongan yang siang itu membuat kami megap-megap kepedasan. Di warung yang sempat kesulitan kami cari karena peta elektronik menunjuk tempat yang salah itu, kami menikmati ayam kampung yang digoreng dengan bumbu khas yang konon adalah warisan dari Mbah Cemplung sendiri. Sayangnya, buat saya dan Bintang yang punya warung ayam goreng pinggir jalan langganan di Jakarta, rasa ayam goreng Mbah Cemplung tidaklah terlalu istimewa. Jadilah dengan rasa agak kecewa kami kembali ke losmen.

Malamnya, setelah Bintang selesai menerima penghargaan di Vredeburg, kami bertemu dengan teman yang beberapa tahun belakangan memang tinggal di Yogya. Karena hari sudah larut, maka pilihan tempat makan kami jatuh pada Gudeg Pawon yang konon memang baru buka sekitar pukul 10 malam hingga dini hari. Di sana, bukan main-main, yang namanya Gudeg Pawon benar-benar diterjemahkan secara harfiah yaitu makan gudeg di pawon alias dapur tempat masak gudeg itu sendiri. Tidak banyak tempat duduk yang tersedia di sana, jadi kami harus menunggu satu rombongan selesai makan, baru bisa duduk. Itupun tak bisa berlama-lama karena sudah banyak lagi orang yang mengantre.

Gudeg Pawon.

Keesokan paginya, hari terakhir di Yogya, kami isi dengan membeli Bakpia Pathok dan berjalan-jalan sebentar ke Coklat Moggo. Sorenya kamipun kembali ke Jakarta dengan Senja Utama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *