48 Jam di Jogja (Bagian 1)

48 Jam di Jogja (Bagian 1)

Sebulan ini bisa jadi adalah waktu tersibuk saya dalam jalan-jalan ke beberapa kota. Setelah dua minggu lalu saya ke Yogyakarta, minggu ini saya kembali ke Bali. Dua-duanya sebenarnya adalah perjalanan dengan tanggungjawab pekerjaan, tapi tentu saja bukan pekerjaan seperti yang sering dibayangkan orang. Seperti biasa, pekerjaan saya adalah pekerjaan yang lebih banyak jalan-jalan dibayarinnya daripada berpeluh-peluh mengerjakan sesuatu yang membosankan.

Yang ke Yogyakarta kemarin adalah pekerjaan menemani pasangan yang konon mendapat penghargaan dari pemerintah atas karya naskah teaternya. Walau awalnya dia tidak berminat datang, tapi di saat-saat terakhir akhirnya diputuskanlah untuk melakukan perjalanan ke sana demi menerima penghargaan itu. Perjalanan ini bukanlah perjalanan membosankan dalam artian naik pesawat sekitar 1,5 jam, menginap di hotel waralaba yang sedang tumbuh di mana-mana bak jamur di musim hujan, berkeliling kota naik mobil, dan makan di tempat-tempat yang direkomendasikan oleh majalah-majalah perjalanan, melainkan perjalanan penuh petualangan yang sudah lama tidak pernah saya lakukan lagi.

Dalam perjalanan ini kami memutuskan untuk naik kereta api! Bukan kereta api Argo atau yang indah-indah serta nyaman itu, melainkan kereta api Fajar dan Senja Utama. Kereta api inilah yang waktu kecil sering membawa saya pulang kampung ke Semarang dan kali ini saya naiki dengan harapan mendapat rasa nostalgianya. Benar saja, interior gerbong kereta api ini bisa dibilang tidak berubah sama sekali. Tempat duduknya yang khas dan keras, sandarannya yang bisa ditarik supaya bisa duduk berhadapan, meja kecil di pinggir sisi jendela yang hanya cukup untuk menaruh gelas atau botol minum, serta warna gerbong yang suram, benar-benar membawa saya pada kenangan masa kecil dulu. Saya langsung bilang pada Bintang: “Dulu, salah satu perlengkapan yang wajib dibawa kalau mau naik kereta adalah koran bekas. Gunanya ya untuk digelar di lantai supaya bisa tiduran.”

Jadilah perjalanan selama delapan jam lebih kami isi dengan bermacam cerita dan tawa. Sesekali Bintang membuka laptop untuk menulis cerita barunya, sedangkan saya membuka-buka buku yang saya bawa untuk dibaca selama perjalanan ini. Bukan waktu yang pendek memang untuk bisa dibunuh dengan mudah. Apalagi setelah 3-4 jam, pantat mulai terasa sakit dan punggungpun mulai pegal.

Mural di tembok dekat losmen kami.

Tiba di Jogja, matahari menyambut kami dengan ganasnya. Kamipun menggendong ransel menuju Sosrowijayan yang jaraknya hanya sekitar 3-5 menit berjalan kaki dari stasiun Yogyakarta. Sosrowijayan ini bagi saya adalah seperti kawasan Poppies di Bali atau Phạm Ngũ Lão di Ho Chi Minh. Begitu sempit gangnya, tapi penuh dengan hotel-hotel kecil bertipe hotel Backpackers serta kebutuhan backpackers lain seperti retoran-restoran bermenu internasional dengan harga murah, juga warnet-warnet dengan komputer busuk yang setidaknya masih bisa dipakai untuk membuka email atau situs-situs pencari, serta jangan lupa bonus kelucuan-kelucuan seperti yang sempat tertangkap kamera saya ini:

Losmen yang kami tinggali cukup sempit dan seadanya. Kamar tidur tanpa AC, serta kamar mandi yang lebih cocok disebut sebagai toilet mandi adalah pengalaman yang menambah keseruan perjalanan ini. Pemiliknya, seperti kebanyakan pemilik hotel backpackers lain, sangat ramah dan kaya akan informasi wisata. Tidak ketinggalan ia juga sering memberi kami tips supaya tidak tertipu oleh harga-harga yang biasa ditawarkan di tempat-tempat wisata. Sesuatu yang hampir tidak pernah kami dapati bila menginap di hotel-hotel besar.

Sore itu, kami makan di Gudeg Yu Djum nan tenar karena jaraknya bisa kami tempuh dengan berjalan kaki dari penginapan. Setelah itu kami baru menyewa motor dan bersiap untuk mencari Sate Klatak yang letaknya agak jauh di daerah Bantul sana.

Jadilah malamnya kami berpetualang naik motor mencari sate klatak pak Bari di pasar Wonokromo. Perjalanan yang sebagiannya melewati jalan-jalan tikus kami tembus dengan motor sewaan seharga 80ribu per hari. Sangat menyenangkan ketika akhirnya kami sampai dan tempat belum terlalu ramai. 2 porsi sate klatak yang masing-masing berisi potongan-potongan besar daging kambing yang ditusuk pakai besi jeruji sepeda serta kuah gulai yang nikmat dan seporsi kicik balung langsung ludes kami sikat. Walau sempat kebingungan karena tangan kami yang berlepotan kecap, kuah, dan bekas-bekas makanan lain tidak bisa dibersihkan karena warung sederhana ini tidak menyediakan tisu apalagi wastafel, tapi tetap saja saya memberi nilai 8 untuk rasa makanan dan suasanan yang aneh dari tempat makan ini.

Sate klatak dengan potongan daging kambing yang besar-besar dan empuk!

Malam itu kami tutup dengan berjalan-jalan sebentar sebelum tidur pulas dan bersiap untuk perjalanan jauh ke kaki gunung Merapi besok pagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *