Kereta Api

Kereta Api

Bayangkan kalau jalan tol dalam kota itu adalah jalur-jalur KRL (Kereta Rel Listrik), rasanya Jakarta tidak akan semacet sekarang.

Kata-kata ayah saya itu terngiang kembali ketika akhir-akhir ini saya menonton sebuah serial drama Jepang berjudul Amachan di kanal Waku Waku Japan. Dalam serial itu diceritakan tentang penduduk sebuah desa kecil yang amat gembira ketika akhirnya pada tahun 1984 jalur kereta api dibuka. Masyarakat kemudian berharap geliat perekonomianpun akan memajukan desa mereka. Dalam perkembangannya digambarkan bagaimana perwakilan masyarakat yang ada di dewan pariwisata desa tersebut membuat berbagai acara untuk menarik wisatawan.

Ada lagi tontonan menarik berjudul Japan Railway Journal besutan kanal NHK World. Serial dokumenter ini menggambarkan betapa hampir seluruh wilayah di Jepang tersambung oleh jalur-jalur kereta api/listrik. Setiap kali menontonnya, saya merasa iri dengan negeri Sakura itu. Mereka selalu memiliki teknologi baru dalam perkereta apian dan kemudian teknologi itu dikembangkan sedemikian rupa untuk bisa dijual dimanfaatkan oleh negara-negara lain kecuali negara kita.

Sulit untuk menyangkal bahwa Jepang adalah salah satu negara yang paling maju di bidang perkereta apian. Setiap kali menonton acara mengenai Jepang, maka kereta api tidak pernah ketinggalan dibahas atau diperlihatkan. Ini menunjukkan bahwa masyarakat Jepang tidak bisa dilepaskan dari kereta api. Bagaimana ini bisa terjadi? Tentu tidak dalam sekejap. Selain infrastruktur yang canggih, lengkap dan mendukung, mentalitas masyarakat dalam menggunakan angkutan umum terutama kereta api sudah terbentuk sekian lama sehingga telah menjadi bagian dari keseharian kalau tidak mau dibilang mendarah-daging.

Lalu bagaimana dengan negari kita ini?

Beberapa minggu lalu saat jalan-jalan ke Bandung lewat jalur Puncak, saya diberi tahu bahwa sebenarnya ada jalur kereta api dari Cianjur ke Bandung. Tapi konon saat ini sudah jarang dipergunakan.
“Lho? Kok aneh ya?” itu pertanyaan yang muncul di kepala saya.
Kenapa jalur kereta yang sudah ada, bukannya dimanfaatkan atau bahkan ditambah, malah dibiarkan terbengkalai?

Mendengar pembangunan di negeri ini, khususnya masalah transportasi darat, tak ubahnya seperti mendengar lagu lama yang diulang-ulang. Lagi-lagi pemerintah sibuk membangun jalan raya baik tol maupun non tol di sana-sini. Jarang terdengar adanya pembangunan jalur kereta api. Padahal menurut saya yang awam ini, pembangunan jalur kereta api tentu lebih murah daripada pembangunan jalan raya. Mengapa sampai sekarang, mobil selalu menjadi prioritas utama untuk dibuatkan infrastrukturnya? Kenapa bukan angkutan yang lebih bersifat massal dan terjangkau oleh semua lapisan masyarakat?

Bayangkan kalau jalur tol dalam kota itu adalah jalur-jalur kereta api/listrik. Ketika seperti sekarang sudah sambung-menyambung dengan jalan tol lainnya (yang juga kita bayangkan sebagai jalur-jalur kereta api/listrik), tentu masyarakat akan sangat terbantu. Mereka yang dari Bandung, bisa naik kereta api jalur Cipularang, lalu lanjut ke jalur Cikampek, dan masuk ke jalur dalam kota, lanjut ke jalur bandara dengan nyaman dan cepat. Bisa juga mereka yang dari jalur Cikampek, lanjut ke jalur Trans Jawa yang akan membawa penumpang ke kota-kota atau desa di sepanjang pulau Jawa. Atau yang dari Bogor, bisa naik kereta api jalur Jagorawi, untuk selanjutnya masuk ke jalur dalam kota, dan sampai di Mangga Dua dengan cepat dan nyaman. Tidak perlu punya mobil untuk bisa bergerak di dalam kota atau bahkan dari satu kota ke kota lain sehingga jalanan tidak penuh sesak dan macet seperti sekarang.

Ketika saya membicarakan masalah ini dengan seorang teman, ia mengatakan bahwa sebenarnya pada masa penjajahan Belanda dan Jepang, walau dengan tujuan yang berbeda, mereka sudah memberi kita contoh bahwa jalur kereta api sangatlah penting dan ekonomis. Namun sayangnya, seiring perkembangan jaman, negeri ini kalah dengan lobi-lobi bisnis produsen mobil malah lebih sibuk membangun jalan raya yang dengan makin banyaknya kendaraan harus terus-menerus diperlebar hingga tak ada lagi tempat untuk melebarkannya dan akhirnya terjadi kemacetan yang justru secara ekonomi merugikan negeri ini sendiri.

Semoga, berita yang baru saja saya baca tentang rencana pemerintah untuk menghidupkan kembali 1.600 kilometer rel mati di Jawa ini adalah awal dari tergugahnya negeri ini untuk memajukan perkereta apian di Indonesia.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *