Siklus

Mas, cepat-cepatlah menikah, supaya kalau sudah tua nanti ada yang merawat.

Itu kata-kata yang pernah disampai beberapa kali oleh teteh yang sering bantu-bantu membersihkan rumah. Tiap kali saya mendengar nasihatnya, saya langsung berpikir, lha saya ini sebenarnya disuruh cepat-cepat menikah untuk membentuk keluarga yang sakinah mawadah warohmah atau sekedar untuk mencari perawat/pembantu di masa tua?

Tentu saya tidak bermaksud meremehkan nasihat orang lain, tapi bagaimana saya mau menikah kalau negara ini tidak mengakui keberadaan pernikahan yang ingin saya akan laksanakan? Tapi sudahlah, itu masalah yang berbeda. Bisa kena pasal penistaan panjang lebar kalau saya harus saya bahas di sini.

Jadi sebenarnya tulisan kali ini bersumber dari dua peristiwa yang sekitar sebulan ini saya alami. Pertama adalah peristiwa ketika seorang sahabat lama akhirnya datang dan menginap beberapa hari di rumah. Saat itu setelah melepas rindu dan berbagi kabar, akhirnya sampai juga pada bahasan tentang siapa pacarnya sekarang orang yang sedang dekat dengannya. Tanpa diduga saya mendapat jawaban seperti ini: “Gue sekarang udah nggak mikirin itu lagi sih. Udah capek lah gue. Selama ini kan sama aja tuh hasilnya. Deket sama orang, ngerasa cocok, pacaran, trus setelah beberapa lama ngerasa saling nggak cocok, banyak masalah, dan akhirnya putus.”

“Lha tapi kan terakhir gue denger elo lagi deket tuh sama orang yang katanya baik. Enak diajak ngobrol dan jalan.”

“Ya, bukannya semua juga awalnya begitu ya?”

Saya lalu terdiam dan hanya bisa mengangguk-ngangguk saja. Meskipun apa yang dikatakan teman saya itu benar, tapi saya tetap merasa tidak terima. Saya merasa dia hanya menyembunyikan informasi tentang pacar barunya saja dengan mengatakan hal-hal tadi.

Peristiwa kedua adalah saat saya mengunjungi seorang saudara yang sudah lama tidak saya kunjungi. Setelah berhaha-hihi sambil menunggu makan siang yang terlambat, saya beroleh kabar bahwa seorang tante yang punya dua anak, sekarang tinggal sendirian di rumahnya yang jauh dari mana-mana. Tentu saja ini berita yang mengagetkan karena yang saya tahu tante saya ini sudah susah mengurus dirinya sendiri. Berjalan saja susah, apalagi mengurus rumah. Apalagi ketika saudara saya itu bilang bahwa tante saya sering menghubunginya untuk minta ditemani. Tante saya ini rela membayari ongkos, biaya hidup, bahkan ketika selesai menemani akan diberi uang lebih, demi saudara saya ini datang ke rumahnya dan tinggal selama beberapa waktu. Saya makin terharu mendengarnya.

Maka ketika saya sudah di rumah, sendirian, karena pacar sedang ada urusan beberapa hari di luar kota, saya berpikir bahwa memang bagaimanapun keadaannya, maka pada akhirnya manusia, seperti saat dia hadir di dunia ini, akhirnya akan sendirian.

Tadinya saya berpikir bahwa mungkin karena saya ini adalah anak tunggal dan tidak mungkin menikah karena lagi-lagi negara ini tidak akan mengakuinya, maka nantinya saya akan kesepian, sedih, sendirian, dan mayatnya akan ditemukan beberapa minggu setelah saya mati, itupun kalau belum habis dimakan kucing-kucing dan anjing saya duluan. Tapi kalau melihat apa yang terjadi pada tante saya yang tidak tanggung-tanggung punya saudara kandung 12 orang, suami (yang sudah meninggal duluan), dan dua orang anak yang sudah dewasa, maka sebenarnya sama saja. Dia akhirnya sendirian juga.

Jadi ya, seperti semua hal di dunia ini, maka hidup hanyalah sebuah siklus. Tidak akan ada yang menetap. Semua pasti berubah. Jadi logikanya, bukan dengan melekatkan diri pada sesuatu maka saya akan jadi bahagia dan tidak kesepian, karena justru dengan melekat maka ketika hal yang saya lekati berubah maka saya akan berduka. Tapi seharusnya saya ini mulai belajar untuk tidak melekat pada apapun, supaya ketika hal itu berubah atau bahkan hilang, maka saya tidak akan berduka. Sama seperti yang pernah seorang guru mengaji saya katakan, dalam hidup ini jadilah seperti tukang parkir. Memarkirkan mobil dengan baik supaya tidak lecet sedikitpun, menjaganya dengan baik, tapi ketika mobil itu pergi dibawa oleh yang punya, dia tidak berduka sama sekali.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *