Dua Film Berbau Religi di Oscar Kemarin

Perhelatan terbesar dunia perfilman sejagat tahun 2017 memang sudah hampir sebulan lalu selesai. Walau menyisakan insiden yang konon adalah yang terbesar dan terparah sepanjang sejarah penyelenggaraannya, tapi setidaknya Oscar tahun ini tidak lagi dianggap terlalu putih. Bahkan saking tidak ingin dianggap terlalu putihnya, beberapa pemenang piala berbentuk manusia berdiri tegak dengan membawa tongkat ini, menurut saya hanyalah sekedar demi “kebenaran a la politik” alias “politically correct”.

Yang menarik bagi saya adalah bahwa setidaknya ada dua film peraih nominasi Oscar tahun ini yang bertema religi. Dua film ini menjadi menarik karena bila ditilik dari sutradaranya maka akan menimbulkan kecurigaan bahwa yang satu memang benar-benar dibuat demi kepentingan agama tertentu, sangat religius, konservatif, dan dilebih-lebihkan demi mencapai kepentingan tersebut. Sedangkan yang satu lagi dibuat demi kepentingan mengejek kereligiusan, sikap dalam beragama, sangat reformis, dan membuka pemahaman baru tentang pemahaman dalam menyikapi ajaran agama.

Film pertama adalah “Hacksaw Ridge”. Sutradaranya Mel Gibson. Orang yang pada 2004 pernah menyutradarai “The Passion of the Christ” yang selain dianggap sangat detail menggambarkan detik-detik penderitaan yang dirasakan oleh Yesus sampai wafat di kayu salib, juga dianggap memicu kebencian terhadap bangsa Yahudi. Mel Gibson juga dianggap sebagai orang yang kolot dalam beragama dan rajin berperan atau membuat film-film yang mempromosikan superioritas kulit putih.

Dalam “Hacksaw Ridge” Mel Gibson mengangkat kisah seorang bernama Desmond Doss (Andrew Garfield) yang bergabung ke dalam angkatan bersenjata untuk membela negaranya namun menolak untuk memegang bedil. Bahkan menyentuhpun tidak mau. Karena hal itu dia harus berhadapan dengan mahkamah militer, walaupun akhirnya lolos dan diperbolehkan ikut berperang tanpa harus memegang senjata. Semua ini dia lakukan demi berpegang teguh pada kepercayaan yang dianutnya yang dalam sepuluh perintah Tuhannya mengandung kata bahwa tidak diperbolehkan membunuh sesama manusia.

Film kemudian berujung pada kisah heroik Doss yang dengan gagah berani menyelamatkan teman-temannya dari pasukan Jepang yang dengan ganas dan tanpa ampun membunuhi sisa-sisa pasukan yang ditinggal mundur oleh anggota pasukan lainnya.

Film kedua adalah “Silence” yang disutradari oleh Martin Scorsese, yang pada 1998 pernah menyutradarai film berjudul “The Last Temptation of Christ” dan dinominasikan sebagai sutradara terbaik dalam ajang Oscar tahun itu. Film ini bercerita tentang kebingungan Yesus antara nafsunya sendiri dan pengetahuannya tentang Tuhan. Yesus dalam film ini digambarkan sebagai sosok yang bingung. Ia yang menikahi Maria Magdalena kemudian memang menunjukkan bermacam mukjizat dan akhirnya disalib, namun tidak mati dan kemudian melanjutkan kehidupan berumah tangga serta mengambil Martha dan Maria, saudara perempuan Lazarus, untuk menjadi istri-istrinya.

Tidak hanya itu, film “The Last Temptation of Christ” juga menggambarkan pertemuan Yesus dengan Paulus yang dilarangnya menggembar-gemborkan kisah “bohong” tentang kebangkitan dan kenaikan Yesus ke surga karena Yesus (dia sendiri) masih ada di situ dan berumah-tangga seperti layaknya manusia biasa saja.

Dalam film “Silence” Scorsese menyajikan kisah dua orang pastor yang berkemauan begitu keras untuk berlayar ke Jepang demi mencari guru mereka yang hilang dan konon telah menyerah dari membela, mempercayai, dan menyebarkan agama yang selama ini dianutnya. Film berdurasi panjang (2 jam, 41 menit) ini kemudian menceritakan betapa kejamnya penguasa Jepang saat itu dalam menghukum mereka yang mempercayai agama yang dibawa oleh para misionaris.

Bagi saya bagian akhir dari film ini sangatlah menarik. Setelah pertunjukan pengorbanan besar dalam membela kepercayaan yang disebarkan oleh para misionaris ini, Rodrigues (Andrew Garfield) justru disadarkan oleh guru yang dengan susah payah dicarinya, Ferreira (Liam Neeson) bahwa mereka yang mengira berkorban demi Tuhan sebenarnya hanyalah berkorban demi kepercayaan yang diajarkan para pengajarnya, yang sebenarnya adalah manusia biasa. Ferreira sangsi bahwa orang-orang yang begitu getol membela agama, paham sepenuhnya akan ajaran agama itu sendiri.

Film “Silence” bagaikan film “Spotlight” yang menang Oscar tahun lalu, untungnya mengisahkan tentang agama yang bukan mayoritas di negeri ini, jadi bolehlah diputar di gedung-gedung bioskop lokal. Kalau saja sebaliknya, mungkin selain tidak boleh diputar di bioskop lokal, juga menimbulkan aksi di jalan-jalan protokol.

Jadi dari dua film berbau religi, yang keduanya dibintangi oleh Andrew Garfield dan tidak mendapat piala Oscar sama sekali ini, mana yang lebih relevan dengan keadaan saat ini?

Hal lain yang menarik dari perhelatan Oscar kemarin adalah bila dalam film Moonlight, peraih Oscar sebagai “Best Motion Picture of the Year”, dibangga-banggakan bahwa tidak ada satupun pemain berkulit putih di dalamnya, maka dalam film “Hacksaw Ridge”, sejauh pengamatan saya, tidak satupun aktor berkulit hitam yang diajak bermain di dalamnya. Mungkin memang Mel masih terlalu putih.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *