Searah

Searah

Di tulisan sebelum ini saya sempat berjanji akan menulis sesuatu yang terinspirasi dari film yang saya tonton. Kali ini saya hendak menunaikan janji itu dengan aneka tambahan pemikiran yang terjadi belakangan ini.

Bertahun-tahun lalu dosen saya pernah bilang bahwa ilmu yang kami dapatkan di FISIP berbeda dengan ilmu yang didapatkan oleh mereka yang kuliah di jurusan teknik apalagi kedokteran. Ilmu di FISIP sebenarnya adalah ilmu yang bisa dipelajari oleh siapa saja dengan hanya membaca buku-buku yang umum ada di mana-mana. Tapi yang membedakan kami dengan mereka adalah dalam bagaimana kami diajari untuk berpikir runut dan sistematis sehingga bisa melihat sebuah permasalahan dengan lebih menyeluruh dan jernih sehingga mampu memberikan solusi yang lebih efektif dan terarah. Sebuah pemikiran yang tentu saja tidak searah, seperti judul tulisan saya ini.

Lalu apa hubungannya dengan film kemarin?

Dalam film Sokala Rimba, salah satu hal yang menarik adalah bahwa ada suku di Indonesia, dan saya yakin juga banyak suku di dunia, percaya bahwa ilmu pengetahuan akan memberikan kutukan bagi mereka. Saya kemudian teringat pada kata-kata seorang teman yang kurang lebih intinya begini: “Mungkin ada enaknya juga jadi orang bodoh. Tidak perlu berpikir terlalu rumit dalam menghadapi hidup ini. Bisa tertawa dan terhibur dengan tayangan-tayangan konyol di televisi. Tidak perlu memikirkan apa dan bagaimana mereka berperilaku dan bertanggung jawab atas perilakunya itu.”

Lalu apa ada hubungan antara kebodohan dengan kemiskinan?

Bisa jadi iya. Pada kebanyakan kasus memang dikatakan bahwa kebodohan bergandengan erat dengan kemiskinan. Tapi apa sebenarnya arti kemiskinan itu sendiri? Apakah karena tidak punya banyak uang (kapital) maka orang disebut sebagai miskin? Ataukah kemiskinan harus diukur dari pemenuhan kebutuhan? Bila kebutuhan sudah dicapai, maka dia tidak miskin lagi?

Ada hal menarik dari sebuah buku yang saya baca belakangan ini. Bukunya tentang makanan memang, tapi menurut saya cukup membuka mata untuk direnungkan bahwa buku ini juga bisa diterapkan dalam hal yang lebih luas daripada hanya makanan. Salah satu hal yang menarik dari buku ini adalah hipotesis yang mengatakan banyak masalah kesehatan yang terjadi saat ini bersumber dari terlepasnya manusia dari proses panjang sebelum sesuatu itu bisa disajikan di meja makan untuk dimakan.

I have the diet for you. It’s short and it’s simple. Here’s my diet plan: cook it your self. That’s it. Eat anything you want – just as long as you’re willing to cook it your self.
-Michael Pollan

Di sini Michael Pollan hendak mengatakan bahwa ketika manusia terlepas dari proses menyiapkan makanan (atau lebih jauh proses menyiapkan bahan makanan) maka yang akan timbul adalah hal yang kurang baik. Sebuah contoh sederhana dia sampaikan: Kita boleh saja makan malam steak dengan saus keju dan jamur lalu ditutup dengan waffel yang diatasnya dibubuhi es krim vanilla dan taburan coklat, tapi syaratnya adalah bahwa semuanya harus kita masak dan siapkan sendiri. Hasilnya, paling-paling kita hanya akan makan satu jenis makanan saja.

Namun yang terjadi saat ini adalah bahwa manusia terlepas dari proses menyiapkan makanan. Semua bahan sudah tinggal ambil di supermarket atau bahkan mini market dekat rumah. Daging sudah dipotongkan, saus sudah dibotolkan, keju sudah tersedia, tepung waffel atau bahkan waffel sudah siap untuk dipanaskan, es krim tinggal ambil di lemari pendingin, taburan coklatpun sudah siap dalam kantong-kantong plastik. Semua tinggal dicampur dan terhidanglah aneka makanan yang siap disantap dan dihabiskan. Atau kalau mau lebih instan lagi, tinggal datang ke restoran, pesan semua makanan itu dan dalam 10-15 menit, semua sudah tersedia.

Tentang buku itu akan saya bahas lebih detail di tulisan lain. Tapi saat ini saya hanya ingin mengatakan bahwa tidak selamanya suatu kebutuhan yang bertumpuk-tumpuk atau ditumpuk-tumpuk akan menghasilkan kebaikan. Bahwa kebutuhan itu didapat dengan cara yang terlepas dari prosespun bukanlah hal yang baik.

Ah, rasanya saya sudah ngelantur ke mana-mana.
Tapi sebenarnya intinya begini, bahwa apakah ilmu pengetahuan adalah kutukan, bisa jadi iya bila ilmu pengetahuan itu kemudian digunakan sampai manusia keblinger. Apakah kebodohan selalu menyengsarakan? Bisa jadi tidak karena si bodoh akan merasa bahwa dia tidak melakukan apa-apa. Dia melakukan apa saja sekehendaknya tanpa memikirkan dampak. Dia mengambil keputusan seenak perutnya juga tanpa berpikir panjang. Semua berjalan searah, sehingga seperti halnya jalanan satu arah, maka semua bisa dilakukan dalam waktu cepat.

Tapi tentu saja kebodohan itu bisa menimbulkan kesengsaraan bagi orang-orang di sekitarnya. Kebodohan itu menyengsarakan orang-orang yang terkena dampak dari pemikiran, keputusan, dan kelakuan si bodoh.

Biarlah tulisan ini saya tutup dengan sebuah kisah yang pernah disampaikan guru ngaji saya waktu kecil dulu:
Seorang bodoh mengajak sahabat karibnya berjalan-jalan. Di tengah perjalanan mereka beristirahat di bawah pohon rindang. Karena kelelahan maka sahabat si bodohpun tertidur. Saat sedang tertidur pulas, seekor lalat menghinggapi hidungnya. Karena tak ingin sahabatnya terganggu oleh lalat, si bodoh segera mengambil keputusan untuk mengangkat batu besar di dekatnya, lalu menghantamkan batu besar itu ke hidung sahabatnya demi membunuh si lalat nakal. Hasilnya…bisa ditebak sendiri lah…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *