[Film] Spear: 1 jam 24 menit penuh keseksian belaka

Entah karena saya habis minum kopi Vietnam yang kental dan manis atau karena mulut saya habis berdarah-darah akibat dibersihkan karang giginya, tapi selama menonton film ini jantung saya rasanya dag dig dug dweerrr Daia.

Jadi ceritanya hari Sabtu yang basah kemarin saya diajak nonton Festival Film Australia yang digelar di Senayan City 26-29 Januari 2017. Karena saya sedang tidak ada kegiatan dan Bintang juga sedang pulang untuk berkumpul dengan keluarga besarnya merayakan Imlek, maka ya saya ikut saja.

Film pertama yang saya tonton adalah film Indonesia yang tampaknya bekerjasama dengan pemerintah Australia sehingga ikut diputar di festival film negara Kanguru itu. Tulisan yang terinspirasi oleh film itu rasanya akan saya tulis minggu depan. Nah yang menarik justru film kedua. Judulnya Spear.

Spear seperti yang saya dan teman saya duga, memang bukan film biasa. “Film ini lebih artsy,” begitu kata teman saya. Dan memang betul, film ini penuh dengan simbol dan tidak semua orang bisa memahami simbol-simbol yang disajikan karena memang film ini bicara tentang sebuah kebudayaan yang bagi orang Indonesia kebanyakan, termasuk saya, adalah jauh dari dipahami.

Spear yang walau di IMDB disebut bergenre drama, menurut saya adalah film tari teatrikal di mana sepanjang 1 jam 24 menit, penonton diajak menikmati tarian eksotik yang bercerita tentang isu anggota suku Aborigin yang hidup di tengah Australia yang modern. Ada banyak pertentangan nilai yang harus dihadapi oleh suku asli negeri Kanguru yang dipertunjukkan melalui gerakan-gerakan apik karya koreografer Stephen Page dalam film ini. Aneka simbol tentang inisiasi seorang lelaki suku Aborigin dan kenyataan pahit yang harus dihadapinya dalam menjadi anggota suku asli yang kemudian justru menjadi minoritas di negerinya sendiri adalah apa yang ingin dipaparkan oleh film ini.

Nah, yang membuat jantung saya dag dig dug seperti yang saya bilang di pembuka tulisan ini adalah si pemeran utama, Hunter Page-Lochard yang menurut saya sangat seksi dan bikin ngiler. Ia yang menjadi benang merah dalam film ini sungguh menjadi penyejuk mata saya sejak awal film hingga akhirnya. Dia berjalan, berbicara, berteriak, dan menari dengan penuh keseksian.

Gimana nih? Berasa langsung pengen jongkok nggak ngliatnya?
Bentuk tubuhnya itu lho…

Sungguh rasanya si Hunterlah yang menyelamatkan saya dari kantuk, yang tampaknya diderita oleh setidaknya 75% penonton, yang bersama saya menonton film ini malam tadi. Sayapun berbisik pada teman yang terkantuk-kantuk di sebelah kiri saya, “Yah, kalaulah besok nggak dapet tiket nonton filmnya Dev Patel, nggak apa-apa. Gue udah cukup terhibur ngeliat film ini.”

Catatan: Film ini juga menyajikan belasan laki-laki berbadan indah yang menarikan gerakan-gerakan eksotis. Rasanya semua selera akan terpuaskan oleh film ini.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *