Kami(s) Sinis: Warkop DKI (Reporn) Reborn

Kami(s) Sinis: Warkop DKI (Reporn) Reborn

Sumber: film.co.id
Sumber: film.co.id

Saat sedang menunggu sebuah film dimulai dan trailer Warkop DKI Reborn: Jangkrik Bos 1 diputar sebagai iklan, seorang teman bertanya: “Loe mau nonton itu nggak?” dan dengan spontan saya menjawab: “Nggak!”
Tapi karena seorang teman lain kemudian mengajak saya menontonnya di sebuah bioskop bertiket murah meriah, maka saya pikir ya sudah lah, kenapa tidak? Toh beberapa orang bilang bahwa film ini bagus.

Hasilnya, saya dan dua orang teman yang ikut menonton malam itu merasa sangat tersiksa karena harus duduk menyaksikan film komedi murahan berdurasi 1 jam 50 menit ini. Saat kemudian di akhir film seorang artis the has been senior yang sepanjang film kemunculannya selalu kami pertanyakan (kenapa dia harus muncul gitu siiihh??!!) menutup film itu dengan janji akan ada lanjutan dari film konyol ini, maka kami hampir saja muntah berjamaah.

Tidak lama setelah keluar dari gedung bioskop sayapun menyusun kata-kata berikut untuk saya sebarkan ke sebuah media sosial: “Warkop DKI Reborn menurut gw adalah penghinaan atas memori indah akan Warkop DKI yang legendaris. Sama sekali nggak layak tonton. Sampah!” Hasilnya, begitu banyak orang berkomentar bahwa bahkan Warkop DKI yang asli saja sudah tidak bermutu, apalagi yang tiruannya.

Saya tidak hendak bicara masalah mutu di rubrik sinisan ini, karena bicara mutu akan sangat jauh dari film yang kacaunya ugal-ugalan ini. Saya ingin bicara masalah memori indah saat negara ini kekurangan hiburan (siaran TV hanya dari satu stasiun TV, itupun milik pemerintah otoriter yang kebanyakan isinya adalah propaganda, dan film-film lokal sempat mati suri atau kalaupun ada isinya hanya masalah ranjang) dan Warkop DKI saat itu berhasil menghibur kebanyakan masyarakat baik yang mampu menonton bioskop maupun yang hanya mampu menontonnya di televisi dengan bantuan video berformat Beta atau VHS.

Saat itu saya ingat betul bahwa kami mau tak mau (karena memang kekurangan hiburan) ikut tertawa menonton adegan-adegan konyol tiga komedian yang kadang menyelipkan kritik sosial di dalam film-film mereka ini. Lagi-lagi jangan bicara masalah mutu. Atau kalaupun mau bicara mutu, maka bandingkanlah dengan mutu hiburan lokal saat itu. Intinya, gerak-gerik, kata-kata, nyanyian, bahkan efek visual yang terlihat sangat artifisial sekalipun, jaman itu, berhasil menarik perhatian dan akhirnya membuat mereka jadi tenar.

Jaman berubah, televisi swasta mulai merambah dunia hiburan. Warkop DKI pun sempat membunuh dirinya sendiri dengan mencoba masuk ke dunia komedi situasi yang disiarkan mingguan di televisi. Sayangnya kelucuan mereka jadi tidak lucu lagi ketika hiburan sudah semakin banyak. Kalaupun lucu, ya lucunya murahan.

Ketika kemudian mereka menyisipkan kata ‘Reborn’ dalam film yang diproduksi 16 tahun setelah milenium berganti ini, harapan saya adalah bahwa mereka akan mencoba menyesuaikan komedi mereka dengan jaman yang sudah berubah.

Tapi rupanya harapan tinggalah harapan. Film ini bukan hanya tidak berhasil mengikuti perkembangan jaman, tapi juga gagal dalam memunculkan nostalgia akan segarnya komedi Warkop DKI pada masanya. Lebih menyedihkan lagi, film inipun tampak terseok-seok hingga akhirnya jatuh ke selokan kenorakan saat harus menyampaikan kritik sosial yang konon adalah salah satu ciri film-film Warkop DKI jaman dulu.

Lihatlah adegan yang ingin menyampaikan kritik sosial tentang hakim yang membebaskan pembakar hutan yang menimbulkan bencana kabut asap bukan hanya di dalam negeri tapi juga di negara-negara tetangga. Mereka menyajikannya dengan sangat berlebihan jeleknya, sehingga lucunya nggak dapet, kritiknyapun tidak terasa sama sekali.

Adegan lain ketika pelawak tamu dari grup lawakan lain muncul bahkan membuat saya menutup mata dan telinga karena berharap dia tidak menyajikan kebodohan lelucon seperti yang saya tebak, tapi rupanya, tentu saja harapan saya pupus ketika si pelawak itu benar-benar mengucapkan kebodohan lelucon yang sudah saya tebak.

Ampas nostalgia yang tersisa dari tontonan ini adalah musik latar konyol khas Warkop DKI dan komedi seksis yang buat saya sudah tidak layak lagi untuk ditertawakan.

One thought on “Kami(s) Sinis: Warkop DKI (Reporn) Reborn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *