Berbagi (2)

IMG_3694Di suatu siang, seorang teman yang tinggal jauh di benua biru bertanya: “Elo percaya nggak kalau hanya kebaikan yang bisa nyelametin elo? Kalau elo percaya, akankah elo berhenti berbuat baik? Atau bahkan berpikir untuk berhenti berbuat baik?” Dia lalu melanjutkan: “akankah ada waktu untuk elo berbuat keburukan kalau memang hanya kebaikan yang akan menyelamatkan loe?”

Pertanyaan bertubi-tubi itu membuat saya terdiam, lalu teringat pada sebuah renungan yang kurang lebih artinya seperti ini: “Aku adalah pemilik perbuatanku sendiri, terwarisi oleh perbuatanku sendiri, lahir dari perbuatanku sendiri, bergantung pada perbuatanku sendiri. Perbuatan apapun yang kulakukan, baik ataupun buruk; perbuatan itulah yang akan kuwarisi.”

Logikanya cukup mudah, berbuat baik membuahkan kebaikan, berbuat buruk membuahkan keburukan.

Saya lanjut bertanya pada teman itu: “Lalu bagaimana dengan kenyataan bahwa ketika sudah berbuat baik, tetap saja keburukan yang didapat?”

Teman saya menjawab: “Mungkin saja di saat itu, ada perbuatan buruk yang harus dibayar. Karena tidak akan ada satu halpun yang akan terlewat untuk dibayar. Baik maupun buruk.”

Jadi jangan salahkan orang lain apalagi entitas lain atas hal-hal yang menimpa diri sendiri. Karena sebenarnya hanya perbuatan sendirilah yang akan menimpa diri sendiri.

Obrolan siang itu sebenarnya adalah lanjutan dari obrolan tentang berbagi yang belakangan menjadi topik hangat dalam lingkaran pertemanan yang kebetulan bersatu dalam sebuah kegiatan di perkebunan Tentrem Jiwo (tentang perkebunan ini, saya akan tuliskan pada bab tersendiri).

Ceritanya hari itu, seorang pegawai meminta saya untuk memberikan sebuah bangunan yang sudah tidak saya pakai, untuk dia bongkar, dan bahan-bahan yang bisa diselamatkan dipakainya untuk membangun rumah yang belum pernah ia dan keluarganya miliki. Sayapun mengiyakan permintaannya dan merasa begitu senang melihat senyumnya.

Hal tersebut menjadi lebih menarik ketika beberapa minggu setelahnya, saat saya dan perkebunan Tentrem Jiwo membutuhkan bantuan tenaga, suami beserta anak-anak sang pegawai itu tanpa saya minta, menawarkan diri untuk membantu tanpa meminta bayaran. Sayapun dengan senang hati menerima bantuan tenaganya yang memang saat itu sangat kami butuhkan.

Sama seperti ketika seorang pegawai lain meminta ijin untuk memanfaatkan sedikit lahIMG_2065wpan untuknya belajar menanam bunga untuk menambah pendapatan. Saat itu saya mendukungnya dan membuatkan bangunan sebisa saya supaya ia dapat belajar dengan baik.

Hasilnya, dengan adanya lahan bunga itu, sang pegawai jadi tidak mau membolos, karena jika dia membolos maka tidak ada yang mengurusi bunga-bunganya. Iapun jadi lebih sering menghabiskan waktunya di perkebunan saya, hingga saya merasa lebih aman dan hangat karena keberadaan para pegawai itu.

Ketika saya ceritakan kisah ini, teman saya tadi segera berkomentar: “ya memang begitulah. Menanam kebaikan akan berbuah kebaikan, entah kapan,di mana, atau dari mana.”

Ini juga mungkin yang dimaksud oleh tulisan: “Berbagi itu bertambah”.

 

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *