Berbagi (1)

IMG_3694

“BERBAGI ITU BERTAMBAH”, demikian tulisan rapi yang terpampang di depan meja kerja saya di kawasan Sanur-Bali, siang itu. Saya yang sedang cukup sibuk dengan berbagai pekerjaan mulai dari berbalas surat elektronik dengan klien, hingga memutar-mutar uang ke sana – ke mari, mendadak terhenyak melihat tulisan itu. Saya berhenti sejenak. Menempelkan punggung ke sandaran kursi, lalu mencoba mencerna kata-kata itu dengan lebih baik.

Saya kemudian mencoba melogikakan tulisan tersebut. Otak saya berbisik: “di mana-mana, yang namanya membagi itu ya pasti mengurangi. 10 dibagi 2, jadi 5. 100 dibagi 2, jadi 50. Pasti berkurang!”. Benar juga. Lalu di mana bertambahnya ya?

Mungkin yang dimaksud oleh kata-kata itu bukanlah seperti logika matematika yang tentu muncul di kepala saya yang sedang gila uang siang itu (namanya juga sedang bekerja keras!). Mungkin saya harus memakai logika kehidupan untuk mencerna kata-kata itu. Sayapun kemudian teringat akan pedihnya rasa melekat, yang bisa jadi adalah lawan dari tindakan berbagi.

Rasa melekat adalah rasa kepemilikan terhadap sesuatu. Rasa ini sebenarnya, seperti pada tulisan saya sebelumnya, adalah rasa yang palsu. Artinya, sebenarnya kepemilikan itu tidaklah ada. Karena semua hal akan timbul dan tenggelam. Muncul dan kemudian hilang. Tidak ada yang abadi di dunia ini. Walau begitu, rasa melekat ini bisa menimbulkan rasa indah yang tiada tara, juga membumbungkan harapan begitu tinggi, dan justru di situ letak jebakannya.

Misalkan saya melekat pada mobil yang saya beli dengan susah payah. Saya senang, karena bisa merasakan kemewahannya, kenyamanannya, juga prestise yang ditimbulkannya. Timbul harapan bahwa dengan memakai mobil ini saya akan tampak hebat. Timbul juga harapan bahwa mobil ini akan indah untuk selamanya. Lalu, ketika mobil itu rusak, tertabrak, atau bahkan hilang, saya akan merasakan kepedihan dari kemelekatan itu. Sebuah rasa yang tidak akan ada bila saya tidak memiliki mobil tersebut.

Atau yang agak lebih abstrak adalah rasa melekat pada pasangan. Perasaan ini diwakili oleh sebuah kata yang seringkali disalah artikan yaitu “cinta”. Rasa cinta ini jelas menumbuhkan rasa senang dan indah. Juga melambungkan berbagai harapan. Namun ketika pasangan bertindak tidak sesuai dengan harapan, maka rasa pedih dari kemelekatan itupun mulai muncul. Ketika hubungan kemudian memburuk atau bahkan hancur sama sekali, kepedihan itupun makin terasa jelas.

Pertanyaannya, apakah kita tidak boleh mencintai? Jawaban pertanyaan ini saya dapatkan dari sebuah tulisan apik seorang bhikku muda bernama Nyanabhadra. Beliau berkata bahwa: “bukan berarti tidak boleh jatuh cinta, namun engkau belajar mencintai dengan sedemikian rupa caranya hingga tidak mendatangkan penderitaan.”

Tidak ada yang bilang bahwa itu akan mudah. Tapi tidak ada yang bilang juga bahwa itu mustahil. Begitu banyak orang yang saya kenal melatih dirinya untuk melakukan hal itu. Saya sendiri tentu masih terlalu jauh dari situ.

Lalu bagaimana dengan berbagi? Menurut saya berbagi adalah kebalikan dari sifat melekat, atau setidaknya adalah salah satu jalan untuk mengikis sifat melekat. Ketika berbagi, berarti kita melepas apa yang kita miliki supaya bisa bermanfaat bagi orang lain.

Ada diskusi menarik dengan seorang teman tentang berbagi. Saya akan menuliskannya pada bagian ke-2 tema ini.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *