2018: Tahunnya Kembali Jadi Aneh

Biasanya sebagai penutup tahun old dan pembuka tahun new, saya selalu menulis panjang lebar tentang apa saja yang terjadi sepanjang tahun yang telah terlalui dan apa saja yang ingin saya lakukan di tahun yang baru. Tapi kali ini untungnya jelang penutup tahun 2017 saya menonton film satir yang berhasil menggambarkan semua itu, sekaligus membuka pikiran bagi saya yang di 2018 ini akan memasuki usia dengan kepala baru.

Film yang dibintangi Ben Stiller itu berjudul Brad’s Status (2017). Kisahnya tentang seorang pria paruh baya bernama Brad Sloan (Ben Stiller) yang mulai mempertanyakan pilihan hidupnya, termasuk membandingkan statusnya dengan status teman-teman kuliahnya yang terlihat begitu sukses dan menikmati hidup penuh gemerlap, kebebasan, dan kemewahan.

Di saat yang sama ia juga harus mengantar anaknya yang sedang memilih tempat untuk kuliah di luar kota. Dalam perjalanan itulah Brad bertemu dan bertukar pikiran dengan Ananya (Sazhi Raja), seorang mahasiswi junior di Harvard. Brad yang tadinya memberi nasihat supaya Ananya jangan terlalu idealis karena Brad merasakan sendiri bahwa menjadi seorang idealis sering kali sama dengan menjadi orang yang hidupnya tak bisa dibanggakan, lagi-lagi ia mengambil contoh teman-teman kuliahnya yang lebih memilih kekayaan dibandingkan hidup idealis sepertinya, malah mendapat pencerahan berkat Ananya yang berpendapat bahwa Brad harusnya bersyukur atas kehidupan yang sedang dijalaninya dan bukan sibuk membanding-bandingkan hidupnya dengan kehidupan orang lain yang terlihat lebih segalanya.

Film ini kemudian ditutup dengan kenyataan bahwa di balik status teman-teman kuliah Brad yang terlihat mewah dan megah itu, rupanya mereka juga memiliki bermacam masalah yang tidak pernah dibayangkan Brad sebelumnya.

Dari film ini setidaknya ada tiga hal yang langsung muncul di kepala saya. Pertama adalah nasihat almarhum Ibu yang menyuruh saya untuk tidak selalu mendongak dalam menjalani hidup. Menurut Ibu, hidup dengan kepala yang selalu mendongak hanya akan membuat sakit leher dan kepala. Beliau mengajari saya untuk menjalani hidup dengan lebih banyak menunduk.

At night, my mind drifted back to college. So many friends who have become successful. Craig Fisher worked for the White House. Jason Hatfield had his own hedge fund. Billy Wearslter sold his tech company at 40. What do I have? I work for a non-profit and nothing to show for it.

Kedua adalah keluh kesah seorang teman yang sering iri melihat unggahan status dan foto teman-temannya di media sosial. Dia merasa bahwa semua teman-temannya hidup jauh lebih bahagia daripada dirinya karena selalu terlihat sedang  jalan-jalan, makan-makan, atau bermewah-mewah. Waktu itu teman saya yang lain mengingatkan bahwa unggahan di media sosial sering kali tidak menunjukkan kenyataan karena memang apa yang diunggah hanyalah apa yang dimaui si pengunggah untuk dilihat oleh orang lain. Hal-hal lain seperti utang kartu kredit yang menumpuk, pasangan yang sering selingkuh, anak-anak yang nilainya buruk apalagi terjerat kasus narkoba, orang tua yang sakit gara-gara ulah si anak, dan aib-aib lainnya tentu tak ditunjukkan di media sosial.

Ketiga adalah adagium yang bilang bahwa “the grass is always greener on the other side of the fence” alias rumput tetangga selalu tampak lebih hijau daripada rumput di halaman kita sendiri.

Ngomong-ngomong Ben Stiller, rasanya sudah dua kali film yang dibintanginya membuat saya terinspirasi. Beberapa tahun lalu saya terinsipirasi oleh “The Secret Life of Walter Mitty” (2013) yang salah satu kutipan kata-katanya: “Life is about courage and going into the unknown” telah membuat saya melakukan beberapa perjalanan yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Dan kali ini saya terispirasi oleh Brad’s Status yang bukan saja mengingatkan saya untuk selalu bersyukur, tapi juga mengingatkan pada celana warna maroon yang setahun kemarin jarang saya pakai karena merasa sudah waktunya untuk berpakaian secara lebih dewasa alias less warna-warni.

Nah, tahun ini rasanya saya akan kembali mengenakan celana warna-warni itu. Juga kembali menjadi saya yang aneh. Karena itulah tahun 2018 ini saya beri tema tahunnya kembali jadi aneh.

Do you even know poor people? They’re not complaining about being ignored at a dinner party. They’re happy they get dinner.

You may also like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *