48 Jam di Jogja (Bagian 1)

48 Jam di Jogja (Bagian 1)

Sebulan ini bisa jadi adalah waktu tersibuk saya dalam jalan-jalan ke beberapa kota. Setelah dua minggu lalu saya ke Yogyakarta, minggu ini saya kembali ke Bali. Dua-duanya sebenarnya adalah perjalanan dengan tanggungjawab pekerjaan, tapi tentu saja bukan pekerjaan seperti yang sering dibayangkan orang. Seperti biasa, pekerjaan saya adalah pekerjaan yang lebih banyak jalan-jalan dibayarinnya daripada berpeluh-peluh mengerjakan sesuatu yang membosankan. Yang ke Yogyakarta kemarin adalah pekerjaan menemani pasangan yang konon mendapat penghargaan dari pemerintah atas karya naskah teaternya. Walau awalnya…

Read More Read More

Kereta Api

Kereta Api

Bayangkan kalau jalan tol dalam kota itu adalah jalur-jalur KRL (Kereta Rel Listrik), rasanya Jakarta tidak akan semacet sekarang. Kata-kata ayah saya itu terngiang kembali ketika akhir-akhir ini saya menonton sebuah serial drama Jepang berjudul Amachan di kanal Waku Waku Japan. Dalam serial itu diceritakan tentang penduduk sebuah desa kecil yang amat gembira ketika akhirnya pada tahun 1984 jalur kereta api dibuka. Masyarakat kemudian berharap geliat perekonomianpun akan memajukan desa mereka. Dalam perkembangannya digambarkan bagaimana perwakilan masyarakat yang ada di dewan pariwisata…

Read More Read More

[FILM] The Story of Luke (2012): Belajar Kejujuran dari Kesederhanaan

[FILM] The Story of Luke (2012): Belajar Kejujuran dari Kesederhanaan

Ini adalah sebuah film menarik tentang seorang remaja autistik bernama Luke (Lou Taylor Pucci) yang sejak usia 4 tahun ditinggalkan oleh ibunya karena malu dan tidak sanggup mengasuhnya. Ia kemudian dibesarkan oleh kakek dan neneknya yang memberi pelajaran bahwa ia bukanlah anak cacat atau terbelakang seperti yang sering dikatakan orang kepadanya. Ia adalah anak istimewa dengan kemampuan yang tak kalah dari anak-anak lain sebayanya. Ketika sang nenek wafat dan kakek harus masuk ke rumah jompo, iapun tinggal bersama keluarga pamannya….

Read More Read More

Siklus

Siklus

Mas, cepat-cepatlah menikah, supaya kalau sudah tua nanti ada yang merawat. Itu kata-kata yang pernah disampai beberapa kali oleh teteh yang sering bantu-bantu membersihkan rumah. Tiap kali saya mendengar nasihatnya, saya langsung berpikir, lha saya ini sebenarnya disuruh cepat-cepat menikah untuk membentuk keluarga yang sakinah mawadah warohmah atau sekedar untuk mencari perawat/pembantu di masa tua? Tentu saya tidak bermaksud meremehkan nasihat orang lain, tapi bagaimana saya mau menikah kalau negara ini tidak mengakui keberadaan pernikahan yang ingin saya akan laksanakan? Tapi…

Read More Read More